"Apabila Engkau sedikit berdzikir (mengingat Allah SWT di dunia) niscaya sedikit pula kesempatanmu memandang-Nya dan kedekatanmu pada-Nya di akhirat." (Al Habib Umar bin Hafidz)


Sabtu, 08 Oktober 2011

2. Majelis Rasulullah SAW

- - - Sebagaimana para ulama dan habaib angkatan-angkatan abad ke-18 dan yang sebelumnya hingga zaman Wali Songo di abad-abad sebelumnya… metode dakwah Nabi saw yang kami pelajari dari guru kami, dan guru kami adalah pemegang sanad guru… bersambung dengan sanad muttashil hingga Rasulullah saw…
Memang tampaknya cuma kumpulan sufi yang shalawatan, main rebana dan hadroh… Tunggulah 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, 30 tahun lagi… akan muncul jutaan pemuda-pemudi yang beridolakan Nabi saw… Laskar pembela Nabi dan sunnah beliau saw yang tidak hanya terbatas dan terpaku dengan senjata, tapi berpolitik, berdagang, bekerja di pasar, di jalan, di perkantoran, di rumah-rumah, di pemerintahan, di istana, dimanapun. Mereka tak diajari memberontak Negara, atau memerangi sesama.
Mereka diajari akhlak Rasul saw. dan kasih sayang… berakhlak dan tidak radikal, menghargai sesama… - - -



Dari www.majelisrasulullah.org
Dikompilasi dari jawaban Habibana atas pertanyaan para jama’ah mengenai Majelis Rasulullah SAW
Sanad guru jauh lebih kuat… Hingga kini kita Ahlussunnah wal Jamaah lebih berpegang kepada silsilah guru (yaitu ia mempunyai riwayat guru-guru yang bersambung hingga Rasul saw dan kau betul-betul mengetahui bahwa ia benar-benar memanut gurunya)…
kita berpedoman kepada guru-guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga Nabi saw… Ia (sanad guru) adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw.
(Habib Mundzir al Musawa)

### 2007/01/16
….
Sebagaimana para ulama dan habaib angkatan-angkatan abad ke-18 dan yang sebelumnya hingga zaman Wali Songo di abad-abad sebelumnya berasal dari Kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Atau dari Indonesia yang menimba ilmu di sana, dan kembali ke Indonesia sebagai da'i-da'i pewaris tugas sang Nabi saw untuk berdakwah dengan kelembutan dan kasih sayang kepada penduduk bumi.
….
Sebagaimana sabda Nabi saw, “Iman adalah Yaman.”
Dan sabda Nabi saw, “Wahai Allah berkahilah penduduk Yaman dan penduduk Syam.”

### Forum Tanya Jawab 2007/05/23
….
Cahaya kebahagiaan semoga selalu menerangi hari-hari anda,
Saudaraku yang kumuliakan,
Majelis Rasulullah saw adalah gerakan dakwah kebangkitan Sunnah Nabi Muhammad saw dengan menggunakan metode dakwah Nabi saw yang kami pelajari dari guru kami, dan guru kami adalah pemegang sanad guru yang bersambung dari Guru Mulia kepada guru mulia, dari Ulama ke Ulama dari Shalih ke shalih, dari Da’i ke Da’i, dari hafidhul Qur’an kepada hafidhul Qur’an, bersambung dengan sanad muttashil hingga Rasulullah saw.
Metode kami sama dengan metode guru kami, demikian hingga Nabi Muhammad saw. Pembahasan kami sama dengan pembahasan guru kami, demikian hingga Nabi Muhammad saw. Materi kami adalah materi yang sama dari masa ke masa, yaitu tuntunan Nabi Muhammad saw. Akhlak kami sama dari masa ke masa, yaitu berlemah lembut dan berkasih sayang.
Dan berhasil atau tidak bukanlah tujuan utama kami, karena tujuan kami adalah berkhidmat kepada Nabi Muhammad saw.
Allah melajukan dakwah ini sebagaimana Allah melajukan dakwah pendahulu kami hingga Nabi Muhammad saw.
Kami tak berniat merebut kekuasaan atau mendirikan negara atau khilafah islamiyah, tapi kami berdakwah untuk membangun generasi muda mudi yang berjiwa Muhammad saw, dan cepat atau lambat hal itu akan terbentuk, dan khilafah islamiyah akan terbentuk dengan sendirinya tanpa perlu digembar-gemborkan.
Kami memadukan seluruh kekuatan, dari masyarakat awam, pedagang, karyawan, pelajar, mahasiswa, elit politik, parpol dan semua kalangan masyarakat untuk bergabung dalam pembentukan Jiwa Muhammad saw, berperilaku Muhammad saw, mencintai Muhammad saw, mengidolakan Muhammad saw. Yang dengan itulah kami akan mencapai puncak keridhoan Allah swt sebagaimana para sahabat Radhiyallahu ‘anhum.
Inilah tujuan dakwah kami. Kami tak berdakwah dan bertindak dengan pendapat kami, tapi kami hanya meneruskan perjuangan guru kami dengan cara guru kami, dan guru kami pun demikian hingga Rasulullah saw.
Demikian saudaraku yang kumuliakan.

### Forum Tanya Jawab 2008/07/01
….
Majelis Rasulullah saw tahun 1998 belum ada nama.
Saat itu malam selasa berpindah-pindah dari rumah ke rumah, hanya beberapa orang saja. Jadi setiap malam selasa, selesai saya ceramah lalu saya berkata, “Siapa yang mau ngambil majelis malam selasa depan?” Kadang ada yang nyaut, kadang semua diam, jika semua diam maka malam selasa depan masih di tempat semula.
Saya tinggal di rumah ibunda saya di Cipanas puncak, dan saya ke jakarta hari senin atau malam senin dengan bus umum, atau dijemput. Kalau saya datang dengan bus umum saya lebih sering memilih datang larut malam senin, menghindari kemacetan jakarta dan ramainya olok-olok orang terhadap pakaian saya di bus umum dan Terminal Kampung Rambutan, karena di tahun 1998 itu pakaian islami belum semarak seperti sekarang yang sangat lumrah.
Jika saya sampai larut malam maka saya mendatangi rumah salah seorang dari beberapa jamaah kita, untuk numpang istirahat dan menginap hingga malam selasa.
Seringkali mereka tak membuka pintu, entah karena kelelahan atau memang sudah kesal karena sering diganggu oleh kedatangan saya di tengah malam, maka saya terpaksa pergi ke rumah yang lainnya dengan berjalan kaki, karena keuangan yang sangat terbatas saat itu. Dan jika sudah kesana sini tak ada yang membuka pintu maka tak jarang saya tidur di teras rumah mereka dengan berbantalkan sorban.
Tujuan saya adalah mengenalkan sang Nabi saw sebagai idola, itulah cita-cita saya, agar orang-orang mencintai Nabi saw.
Saya teringat suatu waktu asma saya kambuh, saat itu saya tak punya uang sama sekali. Saya punya obat namun butuh air minum untuk meminumnya, saya tak punya uang tuk beli air aqua.
Saya berjalan pelahan-lahan dan mengetuk pintu, mereka tak bukakan, mungkin kelelahan. Maka saya pergi berjalan kaki ke jarak yang cukup jauh, nafas saya makin sesak.
Semestinya jika asma sudah akut maka jangankan berjalan, bergerak pun sangat menyakiti, namun saya harus berjalan di malam itu ke rumah yang lainnya demi minta air putih saja untuk minum obat. Saya berjalan dari Pejaten menuju Condet. Namun akhirnya saya tak kuat, saya stop taxi dan roboh di dalamnya tak sadarkan diri.
Saya bangun dan sadar ketika saya sudah di ruang UGD RS MMC. Beberapa jamaah sudah berdatangan, rupanya saya dibawa oleh sopir taxi itu ke RS MMC. Sopir taxi itu mengira saya orang asing dan petugas RS MMC memeriksa barang-barang saya dan menemukan banyak no telp dan mereka menghubunginya.
Dua hari saja saya dirawat dan sudah pulih. Semoga Allah memuliakan sopir taxi itu yang menolong saya di tengah malam saat keadaan saya sendiri dan sakit parah dan roboh tak sadarkan diri, mungkin jika ia berniat jahat dan menelantarkan saya di jalan gelap dimalam itu munkgin ajal saya sudah menjelang.
Tak lama majelis semakin banyak dikunjungi maka tak lagi bisa di rumah. Kita pindah ke mushollah, dari musholla satu ke musholla lainnya, berpindah pindah setiap malam selasa. Lalu semakin banyak maka pindah dari masjid ke masjid. Lalu semakin banyak maka hanya empat masjid saja, yaitu masjid Attaubah Kalibata, Masjid Almunawar Pancoran, Masjid Attaqwa Pasar Minggu, dan Pesantren Darul Islah Mampang Prapatan.
Lalu jamaah semakin banyak dan akhirnya ditetapkan disatu tempat saja, yaitu di Almunawar Pancoran.
….
Saya akan bersaksi dengan saksi kebaikan di hadapan Allah atas semua yang pernah hadir di Majelis Rasulullah saw.

### Forum Tanya Jawab 2010/09/04
….
Tak lama saya kembali ke Indonesia, tepatnya pada 1998. Mulai dakwah sendiri di Cipanas, namun kurang berkembang. Maka saya mulai dakwah di Jakarta. Saya tinggal dan menginap berpindah-pindah dari rumah kerumah murid sekaligus teman saya. Majelis malam selasa saat itu masih berpindah-pindah dari rumah-kerumah. Mereka murid-murid yang lebih tua dari saya dan mereka kebanyakan dari kalangan awam. Maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti, setibanya mereka yang cuma belasan saja, mereka berkata, “Nyantai dulu ya Bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya!” Saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai Maulid Dhiya'ullami. Jamaah makin banyak, mulai tak cukup di rumah-rumah, maka pindah-pindah dari musholla ke musholla.
Jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla. Mulai berpindah pindah dari masjid ke masjid. Lalu saya membuka majelis di hari lainnya dan malam selasa mulai di tetapkan di Masjid Almunawar. Saat itu baru seperempat masjid saja. Saya berkata, “Jamaah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insya Allah.” jamaah mengaminkan.
Mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dan lain sebagainya. Maka majelis belum diberi nama dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama. Mereka sarankan Majelis Hb. Munzir saja. Saya menolak… ya sudah, MAJELIS RASULULLAH SAW saja.
Kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Mataram, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Singapura, Malaysia, bahkan sampai ke Jepang.
….

### Forum Tanya Jawab 2007/05/30
….
Kita berdakwah untuk membangkitkan sunnah, itu saja, dan itulah sebaik-baik perjuangan untuk islam. Teruslah berjuang untuk membuat masyarakat kembali pada sunnah, mencintai Nabi saw, mengidolakan Rasul saw, mencintai sahabat radhiyallahu’anhum, mencintai para imam dan ulama, dan meninggalkan idola mereka (yang jauh dari Allah swt), dan pelahan-lahan mereka kembali pada sunnah. Lalu mereka akan menikah, menelurkan keturunan baru yang dididik oleh ayah ibu yang beridolakan Rasul saw dan sunnah. Inilah yang saya perjuangkan dengan Majelis Rasulullah saw.
Memang tampaknya cuma kumpulan sufi yang shalawatan, main rebana dan hadroh bernyanyi dan bernasyid. Namun lihatlah jumlah mereka semakin banyak. Tahun 1998 saya memulai dakwah di majelis malam selasa dari 6 dan 7 orang, kini (tahun 2007) telah lebih dari 5.000 hadirin di majelis mingguan itu. Kita mempunyai cabang 68 di Jakarta dan terus bertambah setiap bulannya. Kita sudah menembus pesantren-pesantren Jawa Timur, jumlah mereka ratusan ribu. Mereka hanya dinyalakan semangatnya untuk mencintai Nabi saw dan Sunnah.
Mereka banyak yang sudah mempunyai putra-putri, anak-anaknya mulai dididik mencintai Nabi saw, beridolakan nabi saw dan ulama… Yah… tunggulah 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, 30 tahun lagi… akan muncul Jutaan pemuda pemudi yang beridolakan Nabi saw.
Anda tak perlu bertanya pada saya dan saya tak perlu menjawab lagi apa yang akan terjadi di Negara ini kalau sudah ada jutaan pemuda yang idolanya adalah Nabi saw. Mereka menjadi buruh, mereka di perdagangan, mereka di pemerintahan, mereka di elite politik, mereka di militer, mereka menjadi ibu rumah tangga.
Nah… sebenarnya inilah gerakan bawah tanah yang paling berbahaya bagi musuh islam, tapi gambarannnya cuma majelis-majelis sufi yang gendangan dengan rebana dan hadroh. Padahal bukan itu, tapi pengkaderan Laskar pembela Sunnah Muhammad saw, itulah tujuan Majelis Rasulullah saw.
Laskar pembela Nabi dan sunnah beliau saw yang tidak hanya terbatas dan terpaku dengan senjata, tapi berpolitik, berdagang, bekerja di pasar, di jalan, di perkantoran, di rumah-rumah, di pemerintahan, di istana, dimanapun, mereka berada dimana-mana, di segala kelompok masyarakat. Mereka tak diajari memberontak Negara, atau memerangi sesama. Mereka diajari akhlak Rasul saw dan kasih sayang. Maka metode ini diterima oleh segala kalangan dan didukung oleh siapapun.
Anda lihat bagaimana partai partai politik yang mulai berpadu bersama kita? kenapa mereka mau berpadu? Karena mereka melihat kemajuan yang dahsyat, massa yang bertebaran dimana-mana, berakhlak dan tidak radikal, tidak memihak partai manapun, tidak benci pemerintah, menghargai sesama.
Maka semua tertarik dan senang melihat pergerakan ini karena memang pergerakan rahmat dan kasih sayang, membuat pemuda brutal menjadi pemuda sopan yang rajin berdoa, ayah ibu yang putus asa melihat anaknya mencaci ayah ibunya setiap hari menjadi anak yang berbudi dan berbakti, istri yang putus asa melihat suami yang mabuk tiap hari menjadi suami yang rajin mengaji dan menjadi takmir masjid, dan masih banyak contoh lainnya.
Saudaraku, demikianlah sekilas gerakan Majelis Rasulullah saw.

### Forum Tanya Jawab 2007/06/06
Limpahan kebahagiaan dan kasih sayang Nya swt semoga selalu tercurah pada hari-hari Anda,
Saudaraku yang kumuliakan,
Mengenai nama itu, tak pernah ada larangannya dalam syariah. Justru pada hakekatnya semua majelis adalah Majelis Rasulullah saw. Lalu kalau bukan Majelis Rasulullah saw lalu majelis siapa? Karena yang disebut majelis taklim adalah majelis yang mengajarkan tentang ajaran Rasulullah saw.
Saya tidak mengambil nama ini dari kaidah bahasa Arab, karena menurut bahasa arab yang benar bukanlah Majelis Rasulullah, tapi Majelis Rasulillah. Namun saya sengaja tak memakai nama itu, karena agar difahami oleh semua masyarakat awam, karena untuk masyarakat awam nama ‘RASULILLAH’ tentunya akan menimbulkan pemahaman baru, sebagaimana yang mereka kenal adalah RASULULLAH, padahal maknanya sama.
Dan tujuan saya pula tuk mengangkat kembali nama Rasulullah saw di ibu kota. Dimana-nama nama orang dhalim semakin mencuat, maka biar nama Rasulullah saw tersebar kembali dan termasyhur, sehingga semua yg membaca tulisan itu tentunya melafadhkan kalimat "RASULULLAH" SAW
Karena nama nama lain masih akan menunjuk pada makna yang banyak, misalnya "Mustofa", tentunya banyak nama Mustofa selain Rasul saw, ada Mustofa teman, ada Mustofa pencuri dan lain sebagainya. Demikian pula nama Muhammad, ada jutaan nama Muhammad, maka itu tak menyimpulkan kepada makna yang menghujam di sanubari. Namun nama RASULULLAH SAW sudah jelas yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw.
Dan memang tujuan Majelis Rasulullah saw adalah kebangkitan semangat muslimin tuk membela sunnah Rasulullah saw. Merekalah tentara Nabi saw, bukan dengan kekerasan dan radikalisme tentunya, namun dengan akhlak Nabi saw dan sunnah beliau saw.
Yang aneh bila ada yang tak suka nama Rasulullah saw mencuat ke permukaaan di ibu kota. Protes dengan muslimin yang memakai jaket bertuliskan nama beliau saw. Namun diam saja melihat muslimin memakai jaket bertuliskan ‘H****y D******n’ atau nama-nama kafir lainnya.
Mengenai nama itu saya tak minta persetujuan dari Guru Mulia, namun beliau telah melihatnya dan tak membantahnya.
Tidak mustahil di waktu mendatang saya mengganti nama Majelis Rasulullah saw dengan nama lain, karena hakikat dakwah bukanlah dengan nama, hakikat dakwah adalah ajaran Nabi Muhammad saw.
….

Ingin membaca cerita lainnya?
Klik KEMBALI KE DAFTAR ISI

0 komentar:

Posting Komentar