"Apabila Engkau sedikit berdzikir (mengingat Allah SWT di dunia) niscaya sedikit pula kesempatanmu memandang-Nya dan kedekatanmu pada-Nya di akhirat." (Al Habib Umar bin Hafidz)


Sabtu, 08 Oktober 2011

16. Al Habib Umar bin Hafidz

- - - Kami teringat malam itu beliau mengumpulkan seluruh mereka dan murid-muridnya yang lain. Lalu beliau memberi nasihat, lalu tiba- tiba nasihatnya terhenti... Suasana pun mencekam, tiba-tiba beliau mulai menangis... menangis... menangis sekeras-kerasnya, seraya berkata, "Bila Dia (Allah) bertanya kepadaku kelak tentang kalian… Bila Dia meminta pertanggungjawaban dariku atas kalian… Bila Dia menanyaiku… dan bila sang Nabi bertanya pula kepadaku tentang perbuatan kalian… aku harus bertanggungjawab. Demi Allah, kalau ditindihkan gunung besar di atas kepalaku hingga aku lumat dan lebur menjadi debu, itu jauh lebih baik dari pada sampainya berita tentang buruknya amal kalian kepada sang Nabi (saw)?"
Lalu beliau bermunajat dengan tangisnya agar seluruh muridnya dilimpahi hidayah dan keluhuran. - - -

Dari www.majelisrasulullah.org
Ditulis Oleh: Habib Munzir al Musawa
Senin, 5 Januari 2009
Dengan segenap Puji bagi Maha Raja Tunggal Sekalian Alam Semesta, dan limpahan shalawat atas Imam Tunggal yang terpilih memimpin di dunia dan di Akhirat, Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan Sahabat beliau, dan para penerusnya hingga akhir zaman.
Betapa tak tergambarkan kegembiraan ratusan ribu sanubari muslimin di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura, ketika mendengar bahwa semakin dekatnya kunjungan berkala tahunan sang Imam, Alhabib Al Allamah Assayyid Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, Guru yg selalu membimbing dengan kelembutan, dan mencirikan kelembutan ajaran sang Nabi saw, yang siang dan malamnya adalah membimbing ratusan santri dari mancanegara, dan di akhir malamnya adalah tegak dengan kesendirian, hanya berduaan dengan Maha Raja Tunggal di Alam, dan mengakhiri malamnya dengan kedua tangan terangkat tinggi bermunajat dan mengemis curahan rahmat bagi para muridnya dan seluruh muslimin.
Tahun 1994 adalah kunjungan pertama beliau ke Indonesia. seorang da'i muda yang telah mendunia ini pun mengadakan kesepakatan dengan para ulama dan habaib di Indonesia untuk mengabulkan permintaan mereka dalam menerima siswa-siswa dari Indonesia untuk dibimbing oleh beliau di Yaman, tepatnya di kota Tarim, Hadramaut.
Sebagaimana para ulama dan habaib angkatan-angkatan abad ke-18 dan yang sebelumnya hingga zaman Wali Songo di abad-abad sebelumnya berasal dari Kota Tarim, atau dari Indonesia yang menimba ilmu di sana, dan kembali ke Indonesia sebagai da'i da'i pewaris tugas sang Nabi saw untuk berdakwah dengan kelembutan dan kasih sayang kepada penduduk bumi.
Sembilan makam para wali itu sebagai saksi abadi bahwa mereka mendatangi negeri ini karena tugas mulia yang mereka telah diizinkan Allah swt untuk memangkunya, sebagai penyeru kepada Keluhuran yang abadi. Demikian pula makam-makam orang shalih di belahan Nusantara, yang juga bertebaran di Jakarta seperti wilayah Luar Batang, Kwitang, Alhawi Condet, Kalibata dan masih banyak lagi.
Mereka adalah pembawa Panji Tauhid, dengan limpahan kemuliaan Allah swt saat mereka hidup dan Allah swt masih menunjukkan bahkan setelah mereka wafat, bahwa mereka adalah pembawa rahmat bagi sekalian alam, penerus tugas sang Nabi saw. Sebagaimana makam seorang dari mereka di Aceh, yang banjir Tsunami dengan kekuatan ratusan juta Ton dengan kecepatan rata rata 300km/jam dan tingginya di sebagian wilayah mencapai 30 meter, namun banjir itu menyingkir dan terbelah di makam tersebut, sama hal nya dengan beberapa masjid di propinsi tersebut. Bukanlah berarti mereka itu pemilik kekuasaan abadi, namun Allah Yang Maha Raja Penguasa Keabadian menghendaki para kekasih-Nya termuliakan di bumi dan jasad yang selalu terang benderang dengan cahaya sujud pada-Nya. Dan masjid-masjid yang selalu digunakan untuk sujud kepada-Nya, diabadikan-Nya bagai Monumen Perlindungan-Nya, sebagai benteng kukuh disaat Dia menghendaki turunnya musibah di wilayah itu.
Maka kedatangan da'i besar ini pun bagai pelangi nan indah yang muncul setelah guyuran hujan di negara ini. Tahun 1994 beliau menerima 30 siswa WNI untuk dibimbing ilmu syariah islamiyyah dan kesemuanya menyaksikan bahwa guru yang satu ini sangat luar biasa dalam ketaatan, sangat indah perangainya, penyantun, berakhlak mulia, berbudi luhur, dan sangat berkasih sayang pada murid-muridnya melebihi pada anak-anaknya.
Kami menyaksikan bagaimana Guru Mulia ini selalu memberikan prioritas pada kami dibanding murid-murid yang lain dari warga Negara Yaman. Beliau selalu berkata pada mereka, "Mereka datang dari jauh, meninggalkan keluarga dan kampung halamannya, untuk mencari ilmu, wajib bagi kita memuliakan para tamu Allah ini."
Kami teringat saat Idul Fitri pertama kami di sana, semua santri pulang pada ayah ibu mereka, tinggallah kami para pemuda belia yg bermuram durja teringat Idul Fitri di kampung halaman, dengan hati yg trenyuh melihat semua teman teman yg lain bergembira ria dengan keluarganya. Beliau memahami perasaan kami, malam lebaran itu beliau meninggalkan keluarganya, beliau mendatangi kami, lalu berkata dengan suara sangat teramat lembut, "Semua santri telah bersama ayah dan ibunya, dan kalian bersamaku. Aku akan menemani kalian dan bersama kalian bertakbir malam ini." Betapa lembut perangainya
Suatu saat beliau kedatangan beberapa murid baru yang sangat tak beradab dan sangat banyak membuat pelanggaran, karena murid-murid baru itu tidak berniat menimba ilmu, namun orang tua merekalah yang kewalahan terhadap anak-anaknya dan melemparkan anak-anaknya ke pangkuan beliau untuk mendapatkan bimbingan.
Kami teringat malam itu beliau mengumpulkan seluruh mereka dan murid-muridnya yang lain. Lalu beliau memberi nasihat, lalu tiba- tiba nasihatnya terhenti... Suasana pun mencekam, tiba-tiba beliau mulai menangis... menangis... menangis sekeras-kerasnya, seraya berkata, "Bila Dia (Allah) bertanya kepadaku kelak tentang kalian… Bila Dia meminta pertanggungjawaban dariku atas kalian… Bila Dia menanyaiku… dan bila sang Nabi bertanya pula kepadaku tentang perbuatan kalian… aku harus bertanggungjawab. Demi Allah, kalau ditindihkan gunung besar di atas kepalaku hingga aku lumat dan lebur menjadi debu, itu jauh lebih baik dari pada sampainya berita tentang buruknya amal kalian kepada sang Nabi (saw)?" Lalu beliau bermunajat dengan tangisnya agar seluruh muridnya dilimpahi hidayah dan keluhuran.
Tahun 1998 angkatan pertama kembali ke Indonesia, dan setiap tahunnya alumni Ma'had Darulmustafa bimbingan beliau yang baru berdiri pada tahun 1997 ini terus menghujani Nusantara, termasuk Malaysia, dan kini Singapura, demikian pula Srilangka, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan masih banyak murid-murid beliau yang berduyun-duyun dari pelbagai negara menimba ilmu dari Guru Kelembutan ini.
Beliau mendapat penghargaan dari Presiden Republik Yaman, Ali Abdullah Shaleh, yg sangat mengagumi beliau. Dengan bimbingan kelembutan dan kasih sayang, dan memang ribuan WNA berdatangan ke negeri itu untuk mengunjungi Sang Guru. Lain dengan beberapa Ma'had di beberapa wilayah Yaman lainnya yang banyak mengajarkan kekerasan dan terorisme, dan adapula santri-santri dari WNI yg menuntut ilmu di tempat mereka. Ma'had Darulmustafa kini telah meresmikan bimbingan pelajaran dengan 4 bahasa, yaitu Arab, English, Afrika dan Indonesia, dan santri terbanyak adalah berasal dari Indonesia.
Kunjungan Guru Mulia ini ke Indonesia berlangsung setiap tahunnya, untuk menjenguk murid-murid beliau yang telah berjumlah ratusan memenuhi bumi Nusantara ini. Puluhan pesantren telah berdiri, ratusan majelis taklim telah dibuka. Media televisi, radio, surat kabar, acapkali menampilkan liputan mengenai aktifitas mereka yang selalu berjuang menegakkan dakwah di wilayahnya masing-masing dengan kasih sayang, rahmat, dan kelembutan.
Insya Allah Bumi Jakarta akan disentuh langkah mulia beliau dalam beberapa hari mendatang, pada sabtu malam (10 Januari 2009) bersama dengan Guru Mulia akan diadakan acara ziarah ke Makam Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, Luar Batang, Jakarta Barat. Pada pagi hari minggu (11 Januari 2009), adalah acara puncak, tepatnya pkl 10.00 WIB, yaitu perayaan Haul Al Imam Abubakar bin Salim Fakhrul wujud rahimahullah. Dan senin malam (12 Januari 2009) diadakan beliau akan berkunjung dan menghadiri majelis salah seorang muridnya, hamba Allah yang penuh dosa dan sangat membutuhkan bimbingan Sang Guru, Munzir bin Fuad Almusawa, yaitu di Lapangan Monas, hadirin diperkirakan akan mencapai satu juta orang.
Selamat datang wahai Guru Mulia pembawa semilir kelembutan. Betapa cahaya kelembutan telah kau tebarkan di sanubari ratusan muridmu di mancanegara, dan muridmu pun telah pula membina dan memimpin ribuan bahkan puluhan ribu muslimin di belahan bumi barat dan timur. Kedatanganmu adalah pelipur lara dan penghibur kesedihan bagi perjuangan murid-muridmu yang siang malam jatuh bangun memperjuangkan dakwah sang Nabi saw.
Maka wahai Yang Maha Membangkitkan Kemuliaan, bangkitkanlah semangat keluhuran di sanubari kami khususnya dan di sanubari penduduk Nusantara ini, dengan kedatangan Hamba-Mu yang Kau muliakan sebagai pewaris perjuangan sang Nabi saw yang telah dibawa dan diemban oleh para da'i terpilih-Mu dari zaman ke zaman. Jadikan kedatangan beliau sebagai hembusan rahmat-Mu pada jutaan sanubari penduduk negeri ini. Maka terangkatlah musibah dan bencana, terampunilah dosa-dosa, dan sejuklah sanubari hamba hamba-Mu di negeri ini, amiin.

Ingin membaca cerita lainnya?
Klik KEMBALI KE DAFTAR ISI

0 komentar:

Poskan Komentar